Dokumentasi Formula

Bagaimana kalkulator ini
menilai sebuah saham?

Bayangkan Anda ingin membeli sebuah warung makan. Sebelum memutuskan harganya "pantas" atau tidak, Anda pasti melihat banyak hal: seberapa besar keuntungan per bulannya, berapa nilai asetnya, apakah punya utang, dan seberapa cepat bisnisnya tumbuh. Anda tidak hanya melihat satu angka.

Kalkulator ini bekerja dengan prinsip yang sama untuk saham di Bursa Efek Indonesia (IDX). Ia melihat 8 metrik fundamental sekaligus, memberi bobot berbeda pada setiap metrik sesuai karakteristik sektornya, lalu menghasilkan satu skor akhir yang menentukan apakah saham tersebut murah, wajar, atau mahal.
Saham bank dan saham tambang tidak bisa dinilai dengan cara yang sama. Bank untung dari selisih bunga, tambang dari harga komoditas global. Karena itu, kalkulator ini menggunakan bobot dan threshold berbeda untuk setiap sektor. Apa yang "murah" bagi bank, belum tentu murah bagi sektor lain.
Perbankan
Avg P/E: 13×
Metrik utama: P/B, PEG, Dividen
Energi & Tambang
Avg P/E: 12×
Metrik utama: EV/EBITDA, FCF, MoS
Teknologi & Telko
Avg P/E: 25×
Metrik utama: PEG, P/S, EV/EBITDA
Properti
Avg P/E: 14×
Metrik utama: P/B, PEG, EV/EBITDA
Konsumer Primer
Avg P/E: 20×
Metrik utama: P/E, PEG, P/S
Kesehatan
Avg P/E: 25×
Metrik utama: PEG, P/S, EV/EBITDA
1
P/E Ratio vs Rata-rata Sektor Harga ÷ EPS
P/E adalah "harga yang Anda bayar per rupiah laba." Jika P/E saham ini 10× dan rata-rata sektoral 13×, berarti Anda membeli lebih murah dari kebanyakan. Kalkulator membandingkan P/E saham dengan rata-rata sektornya — bukan nilai absolut — karena standar mahal/murah berbeda antar industri. Bobot: 10–20% tergantung sektor.
≤ 0.6× rata-rata → Sangat Murah 0.85–1.15× → Wajar ≥ 1.5× → Mahal
2
PEG Ratio P/E ÷ Pertumbuhan EPS (%)
PEG adalah metrik paling jujur tentang "mahal tidaknya" sebuah pertumbuhan. Saham dengan P/E 30× bisa terlihat mahal — tapi jika labanya tumbuh 35% per tahun, PEG-nya hanya 0.86 dan sebenarnya murah. PEG < 1 berarti Anda membayar harga diskon untuk pertumbuhan yang Anda dapatkan. Ini metrik dengan bobot terbesar di hampir semua sektor: 20–30%.
≤ 0.5 → Sangat Murah 0.5–1.0 → Murah 1.0–1.5 → Wajar ≥ 2.0 → Mahal
3
Price-to-Book (P/B) Harga ÷ Nilai Buku per Saham
P/B mengukur apakah Anda membayar lebih dari nilai "aset bersih" perusahaan. P/B = 1 berarti harga saham persis sama dengan nilai bukunya. P/B < 1 artinya Anda membeli aset senilai Rp1.000 hanya dengan membayar Rp800. Sangat relevan untuk bank (karena asetnya jelas berupa kredit dan surat berharga) dan properti. Threshold-nya berbeda per sektor — bank dianggap murah di P/B < 1.0×, teknologi masih wajar di P/B sampai 6×.
Contoh bank: ≤ 1.0× → Murah Contoh teknologi: ≤ 3.0× → Murah
4
Price-to-Sales (P/S) Harga ÷ Pendapatan per Saham
P/S berguna saat laba perusahaan masih kecil atau negatif, tapi revenuenya sudah besar. Bayangkan startup teknologi yang belum untung — P/E-nya tidak bisa dihitung, tapi P/S masih bisa. Revenue lebih sulit "dimanipulasi" dibanding laba bersih, jadi P/S memberi gambaran yang lebih bersih. Sangat penting untuk sektor teknologi dan konsumer dengan margin tipis.
Konsumer: ≤ 1× → Murah Teknologi: ≤ 3× → Murah Teknologi: ≥ 10× → Mahal
5
EV / EBITDA (Market Cap + Utang − Kas) ÷ EBITDA
EV/EBITDA adalah cara membandingkan perusahaan tanpa terpengaruh struktur utangnya. Enterprise Value (EV) adalah nilai total bisnis jika Anda membeli seluruhnya — termasuk melunasi utangnya. EBITDA adalah laba operasional sebelum bunga dan pajak (proksi arus kas). Metrik ini sangat penting untuk sektor padat modal seperti tambang dan infrastruktur, yang wajar punya banyak utang. Threshold IDX lebih konservatif dari bursa AS.
Tambang: ≤ 6× → Menarik Konsumer: ≤ 12× → Menarik Teknologi: ≥ 20× → Mahal
6
Graham Margin of Safety EPS × (8.5 + 2g) × (4.4 ÷ Yield SBN)
Ini adalah formula klasik Benjamin Graham — "Bapak Value Investing" — yang dimodifikasi untuk Indonesia. Graham menghitung nilai intrinsik berdasarkan laba dan pertumbuhan, lalu membandingkan dengan harga pasar. Versi ini mengganti yield obligasi AAA Amerika (4.4%) dengan yield Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia sebagai ukuran risiko bebas. Margin of Safety = selisih antara nilai intrinsik dan harga pasar. Semakin besar, semakin aman membeli.
MoS ≥ 30% → Sangat Murah MoS −10% s/d +10% → Wajar MoS ≤ −30% → Sangat Mahal
7
FCF Yield Arus Kas Bebas per Saham ÷ Harga × 100%
FCF Yield mengukur apakah laba di laporan keuangan benar-benar menghasilkan kas nyata. Perusahaan bisa melaporkan laba besar tapi kenyataannya kasnya habis untuk belanja modal (capex). FCF = laba operasional dikurangi capex. FCF Yield tinggi berarti setiap rupiah yang Anda bayar menghasilkan arus kas yang nyata. Tidak dipakai untuk sektor yang memang reinvestasi besar seperti kesehatan.
≥ 8% → Sangat Sehat ≥ 5% → Sehat ≤ 1% → Memprihatinkan
8
Dividend Yield DPS ÷ Harga × 100%
Dividend Yield mengukur berapa persen "bunga" yang Anda terima setiap tahun hanya dari dividen. Saham IDX umumnya lebih dermawan dengan dividen dibanding bursa AS. Investor konservatif sering membandingkan dividend yield dengan bunga deposito atau SBN — jika yield saham jauh lebih tinggi, itu sinyal menarik. Threshold berbeda per sektor: bank diharapkan ≥ 3%, teknologi cukup ≥ 1%.
Bank: ≥ 5% → Sangat Baik Bank: ≥ 3% → Baik Bank: < 0.5% → Tidak Menarik
Setiap metrik diberi skor dari −2 (sangat mahal) hingga +2 (sangat murah). Skor ini kemudian dikali bobot masing-masing metrik, lalu dijumlahkan menjadi skor komposit.
Skor Arti Contoh (PEG)
+2Sangat Murah — metrik jauh di bawah threshold amanPEG < 0.5
+1Murah — metrik di bawah threshold tapi tidak ekstremPEG 0.5–1.0
0Wajar — metrik dalam rentang normalPEG 1.0–1.5
−1Mahal — metrik di atas batas wajarPEG 1.5–2.0
−2Sangat Mahal — metrik jauh melampaui batasPEG > 2.0
Skor komposit tertimbang menghasilkan verdict berikut. Skor maksimum adalah +2.00 (semua metrik sangat murah), minimum −2.00 (semua sangat mahal).
+1.50 → +2.00
SANGAT MURAH — Deeply Undervalued
+0.75 → +1.49
UNDERVALUED — Di Bawah Nilai Wajar
−0.74 → +0.74
FAIRLY VALUED — Harga Wajar
−1.49 → −0.75
OVERVALUED — Di Atas Nilai Wajar
−2.00 → −1.50
SANGAT MAHAL — Deeply Overvalued
Kalkulator ini adalah alat bantu kuantitatif, bukan rekomendasi investasi. Ada hal-hal penting yang tidak bisa diukur oleh formula ini:
  • Kualitas manajemen — apakah direksi jujur, kompeten, dan punya track record yang baik?
  • Moat bisnis — seberapa sulit kompetitor untuk masuk dan menggerus pasar perusahaan ini?
  • Kondisi makro — bagaimana dampak suku bunga BI, kurs IDR, dan kebijakan pemerintah terhadap bisnis ini?
  • Siklus komoditas — untuk tambang dan energi, laba saat ini bisa sangat tidak representatif untuk masa depan.
  • Kualitas data input — hasil kalkulator hanya sebaik data yang Anda masukkan. Data yang salah menghasilkan analisis yang salah.
  • Graham Formula untuk growth stock — formula ini lebih akurat untuk saham mature. Untuk startup atau growth stock agresif, hasilnya perlu diinterpretasi lebih hati-hati.
Mulai Analisis Saham →